Beberapa peneliti Indonesia memperkirakan jumlah penderita Covid-19 di Indonesia bisa mencapai 71.000 kasus pada akhir April jika tidak ada intervensi besar-besaran secara cepat untuk menghambat kecepatan penyebaran virus.Sekelompok peneliti dari China, Inggris, dan Amerika Serikat yang melakukan pemodelan menggunakan data wabah di China menekankan pentingnya waktu dimulainya berbagai langkah mitigasi seperti isolasi, karantina, social distancing hingga lockdown.
Studi tersebut memperlihatkan bahwa 67% kasus Covid-19 di China dapat dicegah jika berbagai langkah mitigasi dimulai seminggu sebelum 23 Januari 2020. Bahkan angka infeksi bisa turun 95% dari total kasus saat ini jika China memulai mitigasi pada awal Januari.
Meskipun infeksi baru ini ditemukan akhir Desember 2019, pemerintah China baru memulai tindakan social distancing dan berbagai langkah mitigasi besar-besaran sejak 23 Januari 2020. Di Indonesia, presiden mengimbau mengurangi interaksi antarorang hampir dua pekan setelah kasus pertama diumumkan. Kini Covid-19 telah menyebar di 17 dari 34 provinsi di negeri ini dengan kasus terkonfirmasi per 24 Maret mencapai 686 dan kematian 55 orang.Masalahnya, sementara social distancing belum maksimal, lebih dari 200 juta umat Muslim di Indonesia akan menjalani puasa Ramadan mulai pekan keempat April. Umumnya, pada bulan itu ada banyak kegiatan buka bersama dan jemaah tarawih tiap malam.
IMBAU Presiden Joko Widodo awal pekan lalu kepada masyarakat agar mengurangi interaksi antarorang di komunitas dan ruang publik (social distancing) akan efektif memperlambat laju penularan Covid-19 jika disertai kebijakan yang kompak antara pemerintah pusat dan daerah serta pengawasan yang serius di masyarakat.Sebaliknya, social distancing dan berbagai langkah mitigasi lainnya seperti pengetesan massal yang tidak optimal dan pembatasan transportasi publik tanpa sosialisasi yang baik dan perencanaan yang matang justru akan gagal mencegah peningkatan jumlah infeksi secara eksponensial dan menimbulkan beban berat pada sistem kesehatan.Pertemuan yang intens dan dekat antarorang dalam kegiatan itu akan menyulitkan langkah pencegahan transmisi infeksi.
Kita bisa belajar dari merebaknya wabah Covid-19 di berbagai kota di China pada bulan Februari akibat migrasi penduduk menjelang Tahun Baru Imlek 25 Januari lalu.
Manfaat besar dari social distancing:Social distancing merupakan salah satu metode kesehatan masyarakat untuk mengurangi interaksi orang-orang di komunitas.
Cara ini efektif untuk mengurangi transmisi penyakit seperti Covid-19 yang terjadi melalui percikan (droplet) dari mulut atau hidung saat batuk, bersin dan berbicara. Transmisi penyakit dengan cara ini umumnya terjadi ketika ada kontak dalam jarak dekat kurang dari 2 meter.
Tujuan utama social distancing adalah mengurangi besarnya wabah, menunda terjadinya puncak epidemi, dan mendistribusikan jumlah penderita infeksi dalam periode waktu yang lebih lama agar beban terhadap sistem kesehatan berkurang.Metode social distancing ini umumnya digunakan ketika sebagian orang yang terinfeksi di masyarakat belum teridentifikasi sehingga belum dapat diisolasi.
Kepala desa lakawali Pantai Andi Wahyuddin.S ,mengapresiasi bergam gerakan sosial di kalangan masyarakat untuk mencegah penyebaran Corona COVID-19. Gerakan sosial dilakukan sejumlah Perangkat desa dan pemuda pemudi karang taruna Lakawali Pantai dari berbagai fraksi dan secara personal.
Studi tersebut memperlihatkan bahwa 67% kasus Covid-19 di China dapat dicegah jika berbagai langkah mitigasi dimulai seminggu sebelum 23 Januari 2020. Bahkan angka infeksi bisa turun 95% dari total kasus saat ini jika China memulai mitigasi pada awal Januari.
Meskipun infeksi baru ini ditemukan akhir Desember 2019, pemerintah China baru memulai tindakan social distancing dan berbagai langkah mitigasi besar-besaran sejak 23 Januari 2020. Di Indonesia, presiden mengimbau mengurangi interaksi antarorang hampir dua pekan setelah kasus pertama diumumkan. Kini Covid-19 telah menyebar di 17 dari 34 provinsi di negeri ini dengan kasus terkonfirmasi per 24 Maret mencapai 686 dan kematian 55 orang.Masalahnya, sementara social distancing belum maksimal, lebih dari 200 juta umat Muslim di Indonesia akan menjalani puasa Ramadan mulai pekan keempat April. Umumnya, pada bulan itu ada banyak kegiatan buka bersama dan jemaah tarawih tiap malam.
IMBAU Presiden Joko Widodo awal pekan lalu kepada masyarakat agar mengurangi interaksi antarorang di komunitas dan ruang publik (social distancing) akan efektif memperlambat laju penularan Covid-19 jika disertai kebijakan yang kompak antara pemerintah pusat dan daerah serta pengawasan yang serius di masyarakat.Sebaliknya, social distancing dan berbagai langkah mitigasi lainnya seperti pengetesan massal yang tidak optimal dan pembatasan transportasi publik tanpa sosialisasi yang baik dan perencanaan yang matang justru akan gagal mencegah peningkatan jumlah infeksi secara eksponensial dan menimbulkan beban berat pada sistem kesehatan.Pertemuan yang intens dan dekat antarorang dalam kegiatan itu akan menyulitkan langkah pencegahan transmisi infeksi.
Kita bisa belajar dari merebaknya wabah Covid-19 di berbagai kota di China pada bulan Februari akibat migrasi penduduk menjelang Tahun Baru Imlek 25 Januari lalu.
Manfaat besar dari social distancing:Social distancing merupakan salah satu metode kesehatan masyarakat untuk mengurangi interaksi orang-orang di komunitas.
Cara ini efektif untuk mengurangi transmisi penyakit seperti Covid-19 yang terjadi melalui percikan (droplet) dari mulut atau hidung saat batuk, bersin dan berbicara. Transmisi penyakit dengan cara ini umumnya terjadi ketika ada kontak dalam jarak dekat kurang dari 2 meter.
Tujuan utama social distancing adalah mengurangi besarnya wabah, menunda terjadinya puncak epidemi, dan mendistribusikan jumlah penderita infeksi dalam periode waktu yang lebih lama agar beban terhadap sistem kesehatan berkurang.Metode social distancing ini umumnya digunakan ketika sebagian orang yang terinfeksi di masyarakat belum teridentifikasi sehingga belum dapat diisolasi.
Kepala desa lakawali Pantai Andi Wahyuddin.S ,mengapresiasi bergam gerakan sosial di kalangan masyarakat untuk mencegah penyebaran Corona COVID-19. Gerakan sosial dilakukan sejumlah Perangkat desa dan pemuda pemudi karang taruna Lakawali Pantai dari berbagai fraksi dan secara personal.
Gerakan sosial yang dilakukan pun beragam, mulai dari pembagian,, hand sanitizer, masker, sabun cuci tangan, sembako, dan serta melakukan kegiatan penyemprotan desinfektan di setiap ruamah warga Serta melakukan penjagaan gerbang masuk desa setiap kendaraan yang masuk akan di semprot desinfektan, kegiatan ini di lakukan secara bergantian perangkat desa, pemuda karang taruna desa Lakawali Pantai serta tokoh masyrakat, upaya untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.
serta yang penting di lakukan saat ini adalah mengintensifkan fungsi Sosialisasi yang bergerak pada upaya untuk mengedukasi Masyarakat yang terkait tentang pentingnya untuk waspada, serta keberdayaan Masyarakat dalam melakukan upaya yang berkaitan dengan prosesi kehidupan sehari hari sebelum masa pandemik. pemahaman Masyarakat tentang upaya menjaga produktifitas dalam masa pandemi ini. pemahaman tentang penggunaan teknologi sangat penting di masifkan agar tercipta kondisi keberfungsian soaial yang sekiranya tetap dapat di jaga Masyarakat. momentum untuk memberikan edukasi tentang penerapan teknologi sekiranya dapat di lakukan saat ini.
dan yang terpenting bagi kita untuk melahirkan sikap untuk peduli atas sesama, hikma terbaik yang dapat di ambil dari fenomena ini adalah upaya kita dalam menggembalikan diri kita sebagai manusia yang esensial. di samping telah adanya upaya Pemerintah dalam menjaga stabilitas kehidupan Masyarakat melalui alur bantaun yang masif kita juga dapat berperan pro aktif dalam membantu sesama melalui kekuatan yang kita milik saat ini, dorongan bantuan dari kita sekiranya akan berdampak keberlangsungan kehidupan Masyarakat yang telah mendapat dampak nyata serangan pandemi.
di samping itu penting bagi semua pihak mempertimbangkan potensi terjadinya masalah sosial yang lain yang di identifikasi sebagai bahaya laten seperti tekanan psikologi dan keberfungsian sosial serta problem dalam hal psikososial, dalam menyikapi potensi masalah ini kita sekiranya mampu saling merangkul dan memberikan dukungan satu sama lain berupa dorongan semangat bagi publik yang terdampak pandemik serta kesedian kita untuk menjauhkan diri maindset atas praktik marjinalisasita
Oleh: "Khadir Halid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar