Pesta demokrasi sesaat lagi akan menghampiri. Negeri kita sebentar lagi akan memasuki sebuah uforia, dimana gerakan politik akan mendominasi di setiap sendi-sendi bangsa. Banyak momentum yang akan terjadi, seolah telah menjadi teradisi terjadi banyak hal yang mewarnai pelaksaannya mulai dari sebuah hikuk pikut militasi dan manufer ploretariat yang akan menggelontorkan berbagai amunisi agar tetap berjaya. Segalanya akan mungkin dan untuk beberapa kaum yang menjadikan tahta sebagai jelmaan dewa akan menganggap bahwa semua cara halal kalau sekiranya bertujuan untuk menang.
Persaingan dalam pemilihan pemimpin berkecenderungan atau berpotensi menimbulkan konflik sosial di antara warga. Setelah reformasi yang sudah berjalan beberapa dekade ini, kita bahkan mengalami banyak konflik sosial karena proses politik ini. Kerusakannya bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial yang terlihat makin mengerasnya sekat-sekat sebagai bangsa dan masyarakat.
Yang umum dan lumrah terjadi adalah isu gesekan antar kelompok akibat adanya kedekatan sektoral dengan paslon dukungannya. Kita cukup lantang dalam menyepakati kalau gaya pergerakan ini sangatlah kuno, primitif dan sangat tidak interpretatif dari nilai kearifan lokal kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya
Pemilihan umum secara langsung oleh rakyat juga merupakan kritik atas tata cara pemilihan umum yang dikuasai oleh elite kekuasaan, yang ingin mengubah agar pemimpin dan kinerjanya merepresentasikan harapan rakyat. Pemilu yang menegasikan keterlibatan rakyat pada masa lalu, terutama di era Orde Baru, memang tampak nyaris tanpa gejolak, tetapi yang banyak terjadi adalah tampilnya penguasa yang orientasinya pada kepentingan elite, bukan pemimpin yang membawa rakyat pada keadilan dan kesejahteraan bagi semua.
Dalam konteks itu, proses Pemilu ini selayaknya dihayati sebagai upaya untuk pergantian pemimpin secara damai. Ini adalah proses mempertemukan kehendak rakyat tentang figur pemimpin yang mereka kehendaki, yang akan menjadi pemimpin dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Keterlibatan rakyat sudah semestinya dalam suasana pengakuan dan perasaan sebagai satu masyarakat dan bangsa, bukan satu kelompok.
Oleh karena itu, proses politik dalam demokrasi yang sedang kita bangun adalah proses yang seharusnya menjadi kekuatan untuk memperkuat persatuan, dan bukanya memecah-belah. Maka proses ini harus dijaga untuk tetap fair, untuk tidak dikacaukan oleh permainan dan kekuasaan uang, untuk dicegah masuknya sentimen sektarianisme.
Kemenangan dalam Pemilu pertama-tama adalah bahwa proses ini menjadi bagian penting penyatuan kehendak rakyat tentang figur pemimpin yang berkomitmen mengemban amanat rakyat untuk keadilan dan kesejahteraan, dan pada konstitusi negara. Kemenangan dalam Pemilu adalah proses yang fair, yang tidak meninggalkan sampah yang berupa konflik dan segregasi masyarakat.
Entah mengapa kita tidak cukupnya sadar bahwa momentum pesta demokrasi adalah monentum sentral bagi keberlangsungan bangga dalam priode yang panjang, momentum ini menyadi prediksi atas nasip bangsa yang akan bergulir di hari esok. tanpa melihat tua muda, wanita pria peran kita sama sentralnya untuk mengawal segala perhelatannya dan larut dalam yuforianya namun masih menempatkan akal sehat kita pada gugus terdepannya agar esensi dari perhelatan pesta demokrasi ini bisa kita petik dan berakhir manis bagi kita semua.
Bagi bangsa negara, suku, agama dan antar golongan yang begitu beragam yang sekiranya sejak lama menjadi kebanggaan tanah air tercinta.Sama-sama kita jangan membiarkan perhelatan ini menjadi momentum lahirnya nilai nilai fragmatum yang dapat menggangu stabilitas bangsa.
Kita harus menjadi seperti dulu hidup satu bersama ibu pertiwi dan membuat bangsa maju dengan tetap bersatu padu lagi untuk visi yang sama untuk persatuan Indonesia.
"Dalam demokrasi, politik adalah seni membuat orang percaya bahwa ia memerintah." - Louis Latzarus.
Oleh: Khadir Halid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar